Empat Prioritas Basis Gerakan MPM

Empat Prioritas Basis Gerakan MPM

MPM DIY – Berdasarkan hasil Muktamar Muhammadiyah ke-48 di Kota Surakarta, ada empat (4) prioritas yang menjadi basis gerakan Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM). Empat prioritas ini tidak terlepas dari program persyarikatan. Antara program MPM dengan program persyarikatan menjadi satu tarikan nafas. Organisasi besar seperti halnya Muhammadiyah tentu memiliki struktur yang besar. Sehingga diperlukan sinergitas di antara struktur yang ada.

Hal ini diungkapkan oleh Dr. M. Nurul Yamin, M.Si, Ketua MPM Pimpinan Pusat Muhammadiyah saat memberikan sambutan dalam acara Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) MPM Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta, Sabtu (02/09) di Hall Masjid Sudja’ RS PKU Muhammadiyah, Gamping, Sleman, Yogyakarta.

Empat Prioritas

Empat prioritas tersebut adalah, Pertama, peneguhan ideologi. Ideologi keislaman yang dimiliki oleh Muhammadiyah inilah yang membedakan MPM dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Oleh karena itu, ideologi ini harus terus dirawat sebagai modal gerakan pemberdayaan.

Kedua, memperluas dan memperkuat basis umat. Dalam proses pemberdayaan, umat menjadi akar rumputnya. Mereka tidak bisa dilepaskan karena merekalah yang menjadi sasaran pemberdayaan. “Basis akar rumput sebagai sasaran objek yang menjadikan mereka tetap subjek dalam pemberdayaan. MPM dan majelis lain menjadi problem solving untuk akar rumput ini,” tambah Yamin.

Ketiga, dakwah generasi milenial. Generasi milenial harus menjadi fokus penting gerakan MPM. Sebab diperkirakan pada tahun 2030 hingga 2040 mendatang Indonesia akan memperoleh bonus demografi di mana jumlah penduduk usia produktif (15-64 tahun) lebih besar dibanding usia nonproduktif (65 tahun ke atas). Generasi milenial menjadi bagian dari usia produktif tersebut.

“Dakwah bagaimana bisa menjadi daya tarik bagi milenial. Dibalik glamornya angkatan muda ada yang cenderung hedonis ada yang cenderung berbeda namun masih ada yang militan-militan. Sehingga militansi ini harus dimasukkan unsur ideologinya,” ujar Yamin yang juga dosen di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta ini.

Dalam konteks pemberdayaan, tentunya keberadaan generasi milenial ini menjadi tantangan tersendiri. Yakni bagaimana MPM mampu merancang program-program yang bisa menarik bagi kalangan milenial. Sebab mereka memiliki potensi yang besar sebagai penggerak ekonomi masyarakat.

Basis gerakan yang terakhir, adalah digitalisasi. Basis gerakan yang terakhir ini tidak bisa dilepaskan dengan basis yang ketiga karena generasi milenial sangat dekat dengan digitalisasi. Saat ini semua aktivitas memanfaatkan dunia digital. Oleh karena itu gerakan pemberdayaan harus dapat memanfaatkan media digital ini.

Ajang Kolaborasi

 Rakerwil MPM PWM DIY merupakan ajang kolaborasi pemberdayaan karena mengundang seluruh pimpinan MPM Pimpinan Daerah Muhammadiyah seluruh DIY. Yakni perwakilan dari MPM PDM Kota Yogyakarta, MPM PDM Sleman, MPM PDM Gunungkidul, MPM PDM Bantul, dan MPM PDM Kulonprogo. MPM PDM seluruh DI Yogyakarta adalah ujung tombak penggerak pemberdayaan Muhammadiyah di Yogyakarta. “Keberadaan mereka sangat dibutuhkan, sehingga diundang khusus dalam acara rakerwil ini,” ujar Luqman Johannudin, SIP, ketua pelaksana Rakerwil.

Dalam rangka mewujudkan kolaborasi gerakan, beberapa majelis yang berkaitan dengan pemberdayaan di lingkungan PWM DIY juga diundang dalam acara ini. Diantaranya, Majelis Ekonomi Bisnis dan Pariwisata PWM DIY, Majelis Pengembangan Wakaf PWM DIY, Majelis Pelayanan Kesejahteraan Sosial PWM DIY, Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting dan Pengembangan Masjid PWM DIY, dan LazisMU DIY. Sementara itu struktur di luar PWM juga diundang seperti Direktur Utama RS PKU Muhammadiyah Gamping, Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) UAD, LPM UMY dan LPM UNISA, serta dari Pimpinan Wilayah Aisyiyah DIY.

Beberapa perwakilan MPM Pimpinan Cabang juga diundang dalam kegiatan rakerwil ini. Diantaranya, MPM PCM Minggir, MPM PCM Piyungan, MPM PCM Banguntapan Selatan, MPM Samigaluh, MPM PCM Kalibawang, MPM PCM Tanjungsari, MPM PCM Rongkop, MPM PCM Patuk dan MPM PCM Umbulharjo. Keberadaan MPM di tingkat cabang (kecamatan) yang diundang telah memiliki program-program pemberdayaan sebagai bentuk dari gerakan pemberdayaan Muhammadiyah.

Dengan adanya pertemuan seluruh stakeholder gerakan MPM di lingkungan Muhammadiyah DIY diharapkan dapat melahirkan kolaborasi gerakan pemberdayaan yang mampu mengentaskan kemiskinan di yogyakarta.

“Kolaborasi gerakan yang dimaksudkan di sini adalah gerakan yang tidak hanya fokus di hulu akan tetapi juga fokus hingga ke hilir. Misalnya pemberdayaan Eduwisata di Sleman sudah dilakukan oleh PCM bersangkutan. Stakeholder yang lain bisa mendukung untuk program eduwisata tersebut. Bisa pemasaran atau dukungan teknis lainnya,” ujar Luqman yang juga pendamping senior di MPM DIY. (Red.)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *